Jangan Menghukum Perilaku Jujur Anak

Anak bersikap jujur itu penting buat belajar mengembangkan diri. Tapi apa yang terjadi bila anak memilih jujur justru dihukum?

Pada posting sebelumnya, Ibu Pertiwi telah membahas pentingnya sikap jujur sebagai sumber belajar. Tanpa jujur mengakui keadaan diri, siapapun tidak akan pernah bisa belajar. Tapi sikap tersebut membuat orang tua jadi dilematis menghadapinya. Bila anak bersikap jujur kemudian dihukum, khawatir anak belajar untuk berbohong. Bila anak bersikap jujur tanpa dihukum, khawatir anak melakukan kesalahan yang sama. Lebih-lebih, jujur pada diri sendiri menjadi dasar bagi pembelajaran semua sikap dan karakter, setidaknya bila mengacu pada Pohon Karakter Indonesia Bercerita.

Sebut saja ada anak bernama Sari. Pada suatu hari ketika makan sendiri, Sari menumpahkan makanan sehingga mengotori taplak kesayangan tanpa diketahui orang tua. Apa saja pilihan Sari? Setidaknya Sari punya beberapa pilihan berikut ini. Pertama, memberitahukan orang tua. Kedua, tidak memberitahukan orang tua. Ketiga, menyalahkan pihak lain. Dalam kasus ini, Sari menghampiri orang tuanya dan mengakui kesalahannya itu. Apa yang perlu dilakukan orang tua agar Sari belajar tanpa menghukum sikap jujurnya? Berikut beberapa tips dari Ibu Pertiwi:

  1. Jangan merespon secara emosional seperti berbicara dengan nada meninggi. Tetap tenang, kelola ekspresi wajah dan nada bicara. Mengapa? Ketika Sari bicara kesalahannya maka itulah sikap jujurnya. Respon pertama orang tua akan diasosiasikan dengan sikap jujur itu. Bila respon pertama membuat tidak nyaman, anak akan belajar bahwa bersikap jujur itu membuat tidak nyaman.
  2. Hargai sikap anak secara eksplisit. Bila langkah pertama adalah menghargai kejujuran anak secara implisit, maka langkah kedua adalah menghargai sikap jujur anak secara eksplisit.  Langkah kedua ini terutama ketika anak mengakui kesalahan yang tidak disaksikan oleh orang tua.
  3. Bicarakan perilaku anak yang keliru. Terlebih dahulu tanyakan pada anak, mana perilaku yang tepat dan apa akibatnya. “Kalau menurut Sari, bagaimana cara makan yang betul?. “Gimana rasanya kalau makan dengan cara yang betul itu?”. Setelah anak menjawab, tanyakan mengenai akibat dari perilaku keliru yang dilakukan anak. Bila anak telah mengakui kekeliruannya, maka bicarakan konsekuensi agar anak belajar dari kekeliruannya itu.

Sampaikan ketiga langkah itu dengan bahasa yang jelas dan mudah. Bantu anak membedakan perilaku jujur dan perilaku keliru. Bangun kesadaran bahwa kalau pun ada hukuman, itu adalah hukuman untuk perilaku keliru, bukan perilaku jujur.

jujur kejujuran
Bagaimana pendapat ayah ibu terhadap pesan Ibu Pertiwi buat keluarga Indonesia ini?. Ada komentar? Bila setuju, silahkan disebarkan

Pesan Ibu Pertiwi hadir setiap pagi jam 20.00 WIB. Pesan ini bisa disimak juga di Pinterest dan MindTalk.

2 thoughts on “Jangan Menghukum Perilaku Jujur Anak

  1. Pingback: Suasana Rumah yang Menyenangkan itu Kunci Pengasuhan Anak - Blog Takita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>